Mediasi Dampak Sedimentasi Sungai Kali Kalapa Berakhir Kondusif, PT VMS Berkomitmen Tuntaskan Perbaikan
KARAWANG - Proyek Penataan Hulu Sungai Kalikalapa desa wadas kecamatan telukjambe Timur, yang berdampak pada warga sekitar permukiman lokasi Pembuangan Sedimentasi di Desa Margakaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, menjadi perhatian publik.
Peristiwa ini mencuat setelah ada seorang warga melaporkan jebolnya tanggul penahan Sedimentasi ke rumah mereka akibat aktivitas pembuangan material dari proyek tersebut.
Proyek yang awalnya bertujuan untuk menanggulangi banjir pada aliran sungai kalikalapa di desa wadas kecamatan telukjambe timur dan menunjang program ketahanan pangan melalui pemanfaatan hasil buangan sedimentasi ini justru memicu persoalan lingkungan dan sosial.
Aris Susanto Selaku Pimpinan PT VMS menjelaskan bahwa proyek normalisasi ini telah diawali dengan proses koordinasi bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.
Ia menyebut komunikasi awal juga melibatkan sejumlah pihak yang memahami kondisi lingkungan sekitar, termasuk sosok Pak Budi G yang berperan sebagai penghubung sekaligus pemilik akses jalan menuju lokasi proyek.
Namun dalam pelaksanaannya, muncul kendala teknis di lapangan. Salah satu hambatan utama terjadi saat tim hendak membangun tanggul di area pembuangan lumpur yang berdekatan dengan rumah warga.
Pihak pelaksana mengaku tidak mendapatkan izin untuk mengakses salah satu titik tersebut.
Pelaksana PT VMS harus mencari jalur alternatif agar pekerjaan tetap berjalan dan Tanggul bisa dibuat, Alhasil karena keterbatasan akses masuk, TAnggul tidak bisa dibuat secara maksimal dan berakhir Jebol
“Kami sempat kesulitan karena tidak diizinkan masuk ke titik tersebut. Akhirnya kami membuka akses dari sisi lain agar pekerjaan tetap berjalan,” ujar pihak pelaksana.
Kondisi ini kemudian diperparah oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Karawang sebelum saluran pembuangan selesai dinormalisasi secara maksimal. Air hujan melimpas dan masuk ke Rumah warga atas nama bapak galingging,
Luapan lumpur dilaporkan mencapai puncaknya pada awal Maret 2026. Firman, salah satu warga terdampak, menyebut aktivitas alat berat turut memperparah kondisi.
Ia menilai manuver ekskavator di tengah genangan lumpur menyebabkan material terdorong ke arah rumah warga.
“Saya sudah mengingatkan agar berhati-hati. Lumpur itu terdorong karena pergerakan alat berat. Saya juga sempat meminta agar pihak terkait turun langsung melihat kondisi di lapangan,” katanya.
Firman juga menyoroti adanya miskomunikasi pada tahap awal.
Menurutnya, laporan warga sempat dianggap tidak mendesak karena kondisi lahan terlihat mulai mengering, padahal sistem pengamanan seperti tanggul dan saluran pembuangan belum siap sepenuhnya.
Menanggapi hal tersebut, pihak PT Visindo menegaskan komitmennya untuk bertanggung jawab. Mereka menyatakan tidak tinggal diam dan terus melakukan perbaikan di lapangan.
“Kami bertanggung jawab penuh dan saat ini progres perbaikan terus berjalan. Untuk kendala air bersih, kami sudah melakukan pengeboran sumur satelit karena fasilitas sebelumnya kurang maksimal,” jelas Aris Susanto.
Langkah lain yang juga dilakukan adalah penguatan pembuatan tanggul serta normalisasi saluran air di area perbatasan guna mencegah kejadian serupa terulang, terutama saat curah hujan tinggi.
Situasi yang sebelumnya sempat memanas kini mulai mereda setelah adanya mediasi yang difasilitasi pemerintah setempat. Galingging, orang tua Firman, menyatakan pihak keluarga menghargai upaya penyelesaian secara kekeluargaan yang telah dilakukan.
“Kami menghargai langkah pemerintah dan pihak pelaksana. Sekarang kondisi sudah baik, sudah saling memahami. Kami anggap ini hanya kesalahpahaman yang sudah selesai,” ujarnya.
Meski kondisi berangsur membaik, warga tetap berharap agar seluruh proses normalisasi, khususnya saluran pembuangan di perbatasan, dapat segera diselesaikan secara maksimal.
Hal ini penting untuk menghindari potensi luapan lumpur di masa mendatang, terutama saat intensitas hujan meningkat.



No comments